Saturday, April 4, 2015

Kesalahan

Semua orang bisa membuat kesalahan dan tidak ada manusia yang sempurna. Hal itu semua orang tahu, tapi beberapa orang lebih sulit beradaptasi dengan kenyataan ini. Salah satunya saya. Saya adalah orang yang sulit menerima kesalahan, terutama kesalahan diri sendiri dan kesalahan orang yang saya percaya. Kesalahan orang lain tidak terlalu masalah bagi saya, tapi kesalahan diri sendiri dan kesalahan orang yang saya percaya adalah kasus khusus.

Namun hari ini aku belajar sesuatu yang luar biasa tentang kesalahan. Hari ini saya membuat dua orang yang harusnya saya jagai marah pada saya. Menurut saya bukan kesalahan fatal, karena saya bukan sengaja menyakiti mereka. Saya juga tidak mengerti kenapa hal ini sampai menjadi masalah besar. Namun, kali ini saya mencoba lebih rileks dalam menghadapi kesalahan yang saya buat.

Pada orang yang pertama, saya meminta maaf dan mengakui kalau saya salah. Sekalipun saat ini orang tersebut belum memaafkan saya (karena kejadiannya masih baru hari ini), namun saya percaya saya sudah melakukan bagian saya untuk minta maaf dan mengakui kesalahan serta berusaha tetap ramah pada orang tersebut. Saya tidak punya hak tersinggung jika dia belum bisa memaafkan saya atau marah balik, karena posisi saya yang sudah berbuat salah duluan. Saya hanya bisa bersabar menanti dia akan memaafkan saya jika hatinya sudah tenang.

Anehnya, hati saya tidak gelisah atau uring-uringan seperti biasanya jika saya berbuat salah. Sering saya menghukum diri sendiri dengan mengingat kembali kesalahan masa lalu yang sudah jauh berlalu atau baru terjadi, tapi hari ini saya belajar mengatasi kesalahan saya. SAYA TAHU SAYA SALAH KARENA ITU SAYA MAU BANGKIT DARI KESALAHAN SAYA. JIKA MERASA BERSALAH TERUS MENERUS SETELAH MINTA MAAF AKAN MEMBUAT KEADAAN LEBIH BAIK, MUNGKIN SAYA AKAN PERTAHANKAN RASA BERSALAH. TAPI JIKA ITU TIDAK MEMBUAT KEADAAN BERUBAH, SAYA MEMILIH UNTUK TENANG DAN MEMILIKI KEBERANIAN UNTUK MENGASIHI ORANG ITU SEKALIPUN DIA BELUM MEMAAFKAN SAYA.

Pada orang yang kedua, hal yang terjadi hanya kesalahpahaman komunikasi. Saya bermaksud memperhatikan dia karena dia lebih muda dan berada dalam otoritas saya untuk saya jaga, namun dia menganggap saya memperlakukan dia seperti anak kecil karena banyak bertanya soal kegiatannya. Kali ini saya meminta maaf sambil menjelaskan maksud saya, bahwa saya tidak bermaksud memperlakukan dia seperti anak kecil.

Hati saya juga tidak tertuduh seperti biasanya. Saya belajar bahwa penerimaan orang lain bukanlah ukuran final. Saya tahu motivasi saya melakukan hal itu adalah kebaikannya, namun saya tidak memaksa dia menerima cara saya, jadi saya akan berusaha berubah tanpa banyak kekuatiran yang tidak perlu. JIKA SAYA PUNYA ENERGI UNTUK MERASA GAGAL DAN MEMBENCI DIRI SENDIRI, MAKA SAYA AKAN GUNAKAN ENERGI SAYA ITU UNTUK TENANG DAN MEMPERBAIKI KESALAHAN SAYA.

That's how I deal with my mistakes. It's a good day for me because I learn something. Tambahan lagi, saya yakin setelah ini saya tidak akan mudah kecewa seperti dulu terhadap kesalahan orang lain. Bukankah saya yang sering merasa kecewa pada orang lain juga sering mengecewakan orang lain? Kenapa kita tidak saling memaafkan dan berubah lebih baik saja?

0 comments:

Post a Comment

 
;